Rabu, 11 Mei 2011

PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN DI BERBAGAI NEGARA


UNIVERSITER ISLAM AS-SYAFI'IAH

MAKALAH
PENDAYAGUNAAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN DI BERBAGAI NEGARA


Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mandiri individu
Mata kuliah Landasan Teknologi Pendidikan MTP-515







Oleh :
I I S       NIM      55 2010  0241




PROGRAM MAGISTER TEKNOLOGI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AS-SYAFI’IYAH
JAKARTA
2011


KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur hanya bagi Allah SWT, yang telah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan alam yakni Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, para sahabatnya, para tabi’in dan tabi’at dan sampai kepada kita selaku umatnya.
Tak lupa saya haturkan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Dosen yang telah memberikan tugas untuk lebih giat lagi dan bersungguh-sungguh dalam belajar. Dan tak lupa kepada semua sahabat-sahabat yang telah membantu dan memberikan dukungan sehingga dapat terselesaikannya makalah ini yang berjudul “Pendayagunaan Teknologi Pendidikan di berbagai Negara”
Bahasan makalah ini mencakup pendayagunaan teknologi pendidikan di negara tetangga kita untuk perbandingan dengan pendayagunaan teknologi di negara kita Indonesia.
Penyusunan  makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penjelasannya bahkan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu  mohon kepada Bapak Dosen atau sahabat-sahabat dan siapa saja yang dapat memberikan arahan, bimbingan  dan kritikan yang bersifat membangun untuk menuju kearah yang lebih baik.

Cianjur,   April 2011.
Penulis
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR ISI........................................................................................................... ii

BAB I             PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang............................................................................ 1
B.   Tujuan Penulisan.......................................................................... 1

BAB II            KAJIAN PUSTAKA....................................................................... 2
A.       Teknologi.................................................................................... 2
B.       Teknologi Pendidikan.................................................................. 2
C.       Negara....................................................................................... 3

BAB III          PEMBAHASAN.............................................................................. 5
A.       Myanmar.................................................................................... 5
B.       Malaysia..................................................................................... 8

BAB  IV         KESIMPULAN............................................................................. 13

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ 14











BAB I
PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang
Mengetahui pendayagunaan teknologi pendidikan  di tempat atau negara lain sedikitnya akan memberikan wawasan dan pemahaman yang lebih luas kepada guru mengenai sejauh mana kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dan kendala-kendala dalam pendayagunaan teknologi pendidikan di negara lain, yamg kemudian dapat dijadikan bahan perbandingan dalam pendayagunaan teknologi pendidikan  di Indonesia. Selain itu berkaitan dengan perkembangan yang terjadi dewasa ini, seorang guru sekolah dasar dituntut memiliki wawasan kependidikan secara internasional atau global. Untuk itu juduk dari makalah ini adalah “Pendayagunaan Teknologi Pendidikan Di Berbagai Negara”.

B.        Tujuan Penulisan
Tujuan secara khusus penulisan makalah ini adalah untuk  memenuhi salah satu tugas individu mata kuliah Landasan Teknologi Pendidikan dengan kode MTP-515.
Sementara tujuan umum dari penulisan ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pendayagunaan teknologi pendidikan di negara lain dan sebagai upaya untuk meningkatkan keprofesionalan kita sebagai tenaga pendidik .









BAB II
KAJIAN PUSTAKA


A.        Teknologi
Pengertian umum teknologi terkait dengan sifat rasional dan ilmiah, teknologi menunjukan sesuatu keahlian, baik itu seni, atau kerajinan tangan. Teknologi juga dapat diterapkan sebagai teknik atau cara pelaksanaan suatu kegiatan atau suatu proses. Selain itu Teknologi mengacu pada penggunaan mesin-mesin dan perangkat keras seperti beberapa pendapat ahli berikut ini yang mendefinisikan teknologi : Saettler yang mendefinisikan teknologi dengan membagi menurut asal katanya- techne, bahasa Yunani, dengan makna seni, kerajinan tangan atau keahlian. Sedang bagi Yunani diakui sebagai kegiatan khusus, dan sebagai pengetahuan.
Sementara, Heinich, Molenda dan Russel (1993) memberikan definisi sebagai berikut “ teknologi merupakan penerapan pengetahuan yang   ilmiah, dan tertata.......teknologi sebagai suatu proses atau cara berpikir bukan   hanya produk seperti komputer, satelit dan sebagainya.

B.        Teknologi Pendidikan
Miarso, dalam Menyemai Benih Teknologi berpendapat bahwa teknologi pendidikan dapat didefinisikan dengan berbagai macam formulasi. Tidak ada satu pun formulasi yang paling benar, karena berbagai formulasi di
bawah ini saling mengisi.
*     Teknologi pendidikan merupakan suatu proses yang kompleks dan terintegrasi meliputi manusia, alat, dan sistem, termasuk di antaranya gagasan, prosedur, dan organisasi.
*     Teknologi pendidikan memakai pendekatan yang sistematis dalam ranfka  mengeanalisa dan memecahkan persoalan proses belajar.
*     Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang yang berkepentingan dengan pengembangan secara sistematis berbagai macam sumber belajar, termasuk didalamnya pengelolaan dan penggunaan sumber tersebut.
*   Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang profesi yang terbentuk dengan adanya usaha terorganisasikan dalam mengembangkan teori, melaksanakan penelitian, dan aplikasi praktisi perluasan, serta peningkatan sumber belajar.
*     Teknologi pendidikan beroprasi dalam seluruh bidang pendidikan secara 
      integratif, yaitu secara rasional berkembang dan berintegrasi dalam berbagai kegiatan pendidikan.

C.        Negara
        Pengertian Negara menurut para ahli dalah sebagai berikut.
·            Prof. Farid S.
Negara adalah Suatu wilayah merdeka yang mendapat pengakuan negara lain serta memiliki kedaulatan.
·            Georg Jellinek
Negara adalah organisasi kekuasaan dari sekelompok manusia yang telah berkediaman di wilayah tertentu.
·            Georg Wilhelm Friedrich Hegel
Negara merupakan organisasi kesusilaan yang muncul sebagai sintesis dari kemerdekaan individual dan kemerdekaan universal
·            Roelof Krannenburg
Negara adalah suatu organisasi yang timbul karena kehendak dari suatu golongan atau bangsanya sendiri.
·            Roger H. Soltau
Negara adalah alat atau wewenang yang mengatur atau mengendalikan persoalan bersama atas nama masyarakat.
·            Prof. R. Djokosoetono
Negara adalah suatu organisasi manusia atau kumpulan manusia yang berada di bawah suatu pemerintahan yang sama.
·            Prof. Mr. Soenarko
Negara ialah organisasi manyarakat yang mempunyai daerah tertentu, dimana kekuasaan negara berlaku sepenuhnya sebagai sebuah kedaulatan.
·            Aristoteles
Negara adalah perpaduan beberapa keluarga mencakupi beberapa desa, hingga pada akhirnya dapat berdiri sendiri sepenuhnya, dengan tujuan kesenangan dan kehormatan bersama.
Jadi Negara adalah pengorganisasian masyarakat yang mempunyai   rakyat   dalam suatu wilayah tersebut, dengan sejumlah orang yang menerima keberadaan organisasi ini. Syarat lain keberadaan negara adalah adanya suatu wilayah tertentu tempat negara itu berada. Hal lain adalah apa yang disebut sebagai kedaulatan, yakni bahwa negara diakui oleh warganya sebagai pemegang kekuasaan tertinggi atas diri mereka pada wilayah tempat negara itu berada.













BAB III
PEMBAHASAN

Sebagaimana telah disebutkan pada bagian pendahuluan, guru perlu   memiliki wawasan mengenai pendayagunaan teknologi pendidikan di negara lain. Wawasan mengenai pendayagunaan teknologi di tempat  atau negara lain tersebut sedikitnya akan memberikan pemahaman yang lebih luas kepada para guru mengenai sejauh mana kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dan   kendala-kendala dalam pelaksanaannya, di mana hal tersebut dapat dijadikan sebagai bahan kajian dan perbandingan dalam pendayagunaan teknologi di   Indonesia. Untuk itu, dalam Bab III ini dikemukakkan secara singkat   pendayagunaan teknologi di dua negara yaitu Miyanmar  dan Malaysia.

a.    Miyanmar
Dibandingkan dengan Laos, Vietnam, Kamboja, Thailand, dan Negara negara lainnya, Miyanmar adalah Negara dengan wilayah daratan terluas (678.000 km2) di Asia Tenggara, setelah Indonesia. Dari segi jumlah penduduknya sekitar 42,5 juta orang Negara ini menduduki urutan kelima (perkiraan Juli 2003) setelah Thailand. Pemerintah percaya bahwa pendidikan akan mampu membawa Miyanmar menjadi bangsa yang maju dan moderen. Visi Departemen Pendidikannya adalah menciptakan system pendidikan yang mampu mewujudkan masyarakat belajar yang siap menjawab tantangan abad pengetahuan. Untuk itu mutu pendidikan dan efesiensi internal maupun eksternal akan ditingkatkan sementara kesempatan belajar akan diperluas.  Reformasi pendidikan, yang meliputi berbagai komponen strategis telah pula
dilaksanakan. Untuk mempercepat jalannya reformasi Rencana Khusus Pengembangan Pendidikan telah disiapkan pada tahun 2001-2002 yang lalu. Salah satu kawasan yang menjadi fokusnya adalah penguasaan teknologi baik ditingkat pendidikan dasar maupun pendidikan tinggi untuk menyiapkan tenaga yang berkemampuan teknologi komunikasi dan informasi yang diperlukan dalam lingkungan kerja berbasis teknologi.
Di jenjang pendidikan dasar dari 10 butir rencana yang ada satu   berhubungan dengan teknologi komunikasi dan informasi sementara dijenjang perguruan tinggi ada 36 program yang terfokus pada 6 kawasan yaitu pengembangan sumber daya manusia, penggunaan teknologi, penelitian, masyarakat belajar sepanjang hayat, peningkatan mutu pendidikan dan pelestarian nilai-nilai dan identitas nasional. Khusus dalam pendayaagunaan teknologi kegiatan diarahkan pada penciptaan lingkungan akademis yang akan menghadirkan pengetahuan yang dinamis dan mendayagunakan teknologi sesuai dengan perkembangan zaman.
Lebih lanjut pendayagunaan teknologi ditempatkan sebagai salah satu dari 6 kawasan utama Rencana Jangka Panjang 30 Tahun Pendidikan mereka (2001/2002 – 2030/2031) untuk meningkatkan pelayanan mampu akses ke pengetahuan bagi seluruh warganya terlepas dari usia, latar belakang pengalaman dan pendidikan mereka. Untuk itu investasi telah dilakukan besar-besaran agar bisa :
-   mempromosikan teknologi komunikasi dan informasi bukan saja sebagai teknologi pengajaran tetapi juga sebagai teknologi belajar;
-   meningkatkan keterampilan elektronik dan teknologi komunikasi dan informasi semua warga belajar di perguruan tinggi; dan
-    mengajarkan teknologi mikro sejak tingkat sarjana muda dan memprioritaskan penelitian yang berkaitan dengannya.
Sejak 1 Januari 2001 Miyanmar juga telah merintis e-education untuk menciptakan kesempatan belajar yang lebih luas dan lebih efektif. Visinya adalah untuk membantu penciptaan bangsa yang berkembang, modern dan tentram damai serta membentuk suatu masyarakat belajar yang mampu menjawab tantangan abad pengetahuan.
Tujuan umum e-education di Miyanmar adalah untuk :
-    menciptakan lingkungan akademis yang kaya akan pengetahuan yang dinamis dan mendayagunakan teknologi sesuai dengan perkembangan zaman;
-   membantu perubahan status dari tenaga kerja ke tenaga belajar;
-   mengantarkan Myanmar memasuki masyarakat yang didominasi pengetahuan;
-   membawa Myanmar ke dalam masyarakat belajar; dan
-   meningkatkan mutu pendidikan di Myanmar ke taraf internasional.
Pada jenjang pendidikan dasar e-education di Myanmar dimaksudkan untuk mengembangkan populasi melek teknologi mulai usia dini dan memfasilitasi proses belajar yang mendayagunakan teknologi. Untuk itu lebih dari 3000 sekolah telah dilengkapi dengan kelas multimedia yang memiliki berbagai peralatan teknologi seperti misalnya TV, Video Cassett players, kaset audio, OHP dan proyektor multimedia, pusat-pusat untuk mendengarkan yang dilengkapi dengan kaset dan headphone, laboraturium bahasa interaktif, dan kelas berbantuan computer. Kecuali itu1301 sekolah telah pula dilengkapi fasilitas latihan computer untuk memasyarakatkan melek computer di lingkungan siswa pendidikan dasar.
Siswa, orang tua, guru dan masyarakat sekitar kini juga telah memiliki akses kediskusi mata pelajaran dan berbagai informasi pendidikan yang disampaikan lewat pusat belajar education yang ada di 257 pendidikan dasar. Jumlah ini ditambah lagi pada tahun 2002-2003 menjadi 406 buah.
Peluncuran education kemudian ditindak lanjuti dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut : Pengembangan system internet, pendidikan yang dapat mengakses internet, pendirian pusat-pusat sumber belajar multimedia (Multi media resauces center) agar memungkinkan pendayagunaan teknologi komunikasi dan informasi bukan saja sebagai teknologi mengajar tetapi juga teknologi belajar; dan pendirian pusat-pusat belajar elektronik (E-Learning centers) yang memanfaatkan teknologi informasi untuk menunjang pendidikan terbuka dan jarak jauh.
Sebelum computer memasuki area pendidikan sejak tahun 1953, Myanmar sudah mendayagunakan radio untuk menunjang pendidikan. Departemen audio visual pendidikan didirikan dibawah Direktorat pendidikan pada tahun 1953. Lembaga inilah yang menyiapkan program siaran radio yang kemudian disiarkan oleh Burma Broadcasting Service (BBS). Program radio juga disiarkan BBS untuk menunjang perkuliahan di perguruan tinggi (University Correspondent Course). Pada tahun 1992 dengan berdirinya UDE (University of Distance Education), Divisi Audiovisual pada UDE bertanggung jawab atas pengadaan program-program radio dan TV, Sementara penyiarannya dilakukan oleh radio dan TV Myanmar. Selain siaran, UDE juga mendistribusikan kopi kaset lewat cabang-cabangnya di 21 universitas setempat. Mereka juga menyiarkan pelajaran lewat radio untuk program BA dan Diploma dalam bidang pendidikan sejak 1981. Jumlah pelajaran lewat radio naik dari 353 di tahun 1992 menjadi 984 per tahun di tahun 2001. Sementara itu pelajaran lewat TV juga bertambah jumlahnya dari 21 program ke 101 program di tahun yang sama. Pada saat ini setiap hari ada pelajaran lewat radio diudarakan selama dua jam dan 10 pelajaran lewat TV disiarkan setiap minggunya.

B.  Malaysia
 Dengan total populasi sebanyak 23,1 juta orang (2003( Malaysia merasakan bahwa pendidikan telah memberikan platform yang kokoh yang memungkinkannya menjadi slah satu Negara yang ekonominya berkembang secara pesat di Asia Timur. Saat ini mereka mereka Malaysia sebagai pusat unggulan akademis regionalserta menjadikan pendidikan sebagai komoditi eksport bermutu tinggi. Untuk itu sudah sejak lama Malaysia mendayagunakan teknologi untuk pendidikannya. Radio dan TV Pendidikan sebagai aplikasi teknologi untuk pendidikan mereka memanfaatkan untuk menunjang pembangunan pendidikan mereka. Di bawah tangung jawab Bagian Teknologi Pendidikan, Departemen Pendidikan Malaysia, sejak 1972 radio dan televisi digunakan untuk menunjang proses belajar mengajar di SD dan SL. Program yang disiarkan untuk Standar I s/d VI meliputi bahasa (Bahasa Melayu, Bahasa Inggris, Bahasa Cina, dan Bahasa Tamil), Agama Islam , Musik, Geigrafi, Sejarah, Kewarganegaraan dan Sastra Melayu. Sejak Januari 2000 program-program tersebut disiarkan melalui Saluran Astro 28 mulai jam 9 pagi hingga jam 5 petang.
Dijenjang Perguruan Tinggi radio juga digunakan untuk menunjang bahan belajar cetak pendidikan terbuka dan jarak jauh di University of  Science Malaysia (USM) mulai tahun 1979. Tujuannya adalah untuk menjembatani hubungan mahasiswa dan universitas, menunjang proses belajar-mengajar dan memberikan identitas status mahasiswa penuh waktu. Setiap Minggu sore pelajaran diudarakan selama 20-30 menit dalam bentuk kuliah, tanya jawab atau diskusi. Interaksi dua arah dimungkinkan dengan menggunakan telepon.
Dalam decade teakhir abad 20 (1990-2000) pemerintah Malaysia telah menyadari bahwa mereka tak mungkin lagi melaksanakan pembangunan bangsa dan negaranya terisolasi dari perkembangan teknologi dunia. Pendekatan yang berimbang perlu dilakukan untuk mengambil manfaat  sebanyak – banyaknya dan mengurangi dampak negative dari globalisasi. Mereka tanggapi tantangan perkembangan teknologi baru, kemajuan ekonomi dan aspirasi social dengan jalan merumuskan kembali focus system pendidikan mereka. Berbagai strategi reformasi, dan penyesuaian kebijakan maupun kelembagaan yang dipandang perlu dilakukan untuk menjawab tantangan persaingan global ini.
Sebagi langkah pertama menuju abag informasi dan lingkungan yang global Visi 2020 yang diprakarsai pada tahun 1990-an diluncurkan yang memungkinkan Malaysia melompat menjadi negara industri dan ekonominya berbasis pengetahuan. Malaysia memerlukan sistem pendidikan yang berkelas dunia. Aspirasi ini tertuang dalam Misi Departemen Pendidikan; mengembangkan sistem pendidikan yang bermutu internasional yang akan mewujudkan potensi setiap individu secara maksimal serta memnuhi aspirasi bangsa Malaysia.
Menyadari pentingnya teknologi bagi percaturan global Malaysia mengambil langkah-langkah agresif dan terencana baik dalam pemanfaatan teknologi (ICT). Departemen Pendidikan dengan tegas menggariskan bahwa ICT hanyalah alat, bukan tujuan. Semua unit di bawah  departemen ini secara aktif terlibat dalam penrapan ICT dalam kebijakan pendidikan. Kerja sama yang baik digalakan antar unit untuk mengembangkan media-media baru untuk memperkaya kurikulum, meningkatkan proses belajar-mengajar yang lebih berorientasi pada siswa, menunjang perbaikan struktur organisasi sekolah yang lebih memberikan wewenang pada tingkat sekolah serta memperkuat hubungan antara sekolah dan masyarakat termasuk kalangan swasta. Kebijakan dalam ICT juga mengarah pada pencapaian tujuan jangka panjang 2020 tersebut. ICT digunakan untuk mengurangi kesenjangan digital antar sekolah, sebagai alat belajar-mengajar dan untuk meningkatkan produktivitas, efektivitas serta efesiensi pengelolaan pendidikan.
Untuk mewujudkan misi 2020 tersebut diciptakanlah Multimedia Super Corridor (MSC) yang dimaksudkan untuk menarik perusahaan terkemuka kelas dunia untuk menempatkan industri multimedianya di Malaysia, melakukan penelitian, mengembangkan produk-produk dan teknologi baru serta mengekspornya dari sana. Koridor ini juga diharapkan dapat memberikan lingkungan yang ideal bagi tumbuhnya perusahaan-perusahaan kelas menengah Malaysia dalam bidang multimedia menjadi perusahaan kelas dunia. Kesempatan juga diberikan pada negara-negara lain untuk menggunakan fasilitas yang ada di sana sebagai tempat uji global aplikasi multimedia mereka serta sebagai hub bagi operasi regionalnya di Asia.
MSC bukanlah sekadar suatu tanaman teknologi tetapi merupakan wahana transformasi lanscape sosial dan ekonomi Malaysia. Sebagai suatu rencana jangka panjang yang merentang dari 1996 hingga 2020 MSC ditargetkan dalam 3 tahap perkembangan:
-            Tahap pertama a91996 – 2003) adalah tahap diciptakannya koridor ini.
-            Tahap kedua (2004 – 2010) dibangunnya koridor serupa ditempat lain di Malaysia serta dihubungkannya MSC dengan koridor tersebut dan dengan cybercities Negara lain. Pada saat ini telah ada dua kota pintar di sana yaitu Putrajaya dan Cyberjaya. Diharapkan pada tahap tersebut kerangka global hukum cyber dapat diharmoniskan dan paling tidak 4-5 kota pintar di Malaysia akan terhubungkan dengan cybercities global.
-            Pada tahap ketiga (2011-2020) Malaysia akan  evolve ke dalam satu MSC dan bangsa tersebut akan berfungsi sebagai tes bed global aplikasi multimedia baru. Pengadilan cyber internasional diharapkan dapat didirikan di Malaysia dan 12 kota pintar di Malaysia akan tern\hubungkan dengan global information higway.
Walaupun arsitek utama MSC ini adalah pemerintah namun implementasinya pada umumnya dikemudikan oleh sector swasta. Salah satu provider telekomunikasi di MSC adalah Telkom Malaysia, yang merupakan investor utama serta yang membangun jaringan telekomunikasi di sana.
Sejalan dengan visi 2020 tersebut ada 6 aplikasi flagship MSC  mulai diluncurka
pada tahun 1997; E-government, Multipurpose Card, Telehealt, R & D Custer, e-bussiness dan Smart School. Aplikasi teakhir, Smart School, proyek rintisannya dimulai pada tahun 1999 untuk mereformasi system sekolah di Malaysia dan mentranspormasikan proses belajarnya dari budaya menghafal dan berorientasi pada ujian ke budaya berfikir, kreatif dan pemecahan masalah. Konsep dasar Smarat School ini dirancang oleh suatu Satgas gabungan antara Departemen Pendidikan dan kalangan industri. Wakil Departemen Pendidikan antara lain adalah Pusat Pengembangan Kurikulum, Bagian Pendidikan Guru, Bagian Teknologi Pendidikan dan Sindikat Pengujian.Tim Pengembangan Smart School  juga gabungan antara pendidik dan analis sistem.
Sebanyak 90 sekolah telah dipilih sebagai lokasi ristisan awal Smart School. Departemen Pendidikan Malaysia telah melatih 1.720 guru-guru dalam hal metode mengajar di Smart School untuk menjamin keberhasilan proyek ini. Program pelatihan selama 14 minggu dirancang khusus untuk membekali mereka dengan keterampilan teknologi informasi, kemampuan berfikir kritis dan kreatif serta kemampuan mengelola sekolah khusus ini. Pelatihan juga dilakukan untuk para kepala sekolahnya. Menurut rencana 10.000 orang guru akan dilatih yang nantinya diharapkan bisa melatih rekan sekerjanya.
Di akhir proyek rintisan ini di tahun 2002 yang lalu, ada 87 sekolah (83 Sekolah Menengah dan 4 Sekolah Dasar) disemua Negara bagian Malaysia telah mengambil bagian aktif dalam program ini dan pada saat yang bersamaan telah dihasilkan sejumlah 1494 judul topic pelajaran Bahasa Melayu, Bahasa Inggris, IPA, Matematika serta system pengelolaan sekolah terpadu, pusat bantuan belajar, Pusat Data, administrasi yang terlatih, guru-guru dan coordinator IT dari semua sekolah rintisan. Tiga sekolah lainnya (satu SD dan dua SL) tidak dapat memenuhi batas waktu kontrak sehingga tidak diikutsertakan dalam kegiatan ini.
Keberhasilan proyek ini banyak ditentukan oleh para agen perubahan di berbagai tingkatan: departemen, Negara bagian, dan sekolah. Ditingkat departemen, menteri, Sekretaris Jendral dalam kapasitasnya sebagai ketua Komosi Pengarah Smart School, Direktur Bagian teknologi Pendidikan yang berfungsi sebagai kepala proyek perintisan Smart School dan wakil direkturnya yang menangani pelaksanaannya dari hari kehari. Ditingkat Negara bagian wakil direktur Departemen Pendidikan Negara Bagian bertindak sebagai Ketua Tim Penunjang Strategis Smart School sedang Kepala Pusat Sumber belajar Negara Bagian bertindak sebagai wakilnya. Di tingkat sekolah kunci perubahan terletak pada kepala sekolah, yang menyusun rencan pengelolaan perubahan sekolah, yang menyusun rencana pengelolaan perubahan jangka pendek maupun panjang dan kegiatan para stakeholder utama di sekolah. Orang tua dan masyarakat melalui BP3 masing-masing sekolah juga aktif dilibatkan dalam mengelola perubahan ini.
Untuk menunjang keberhasilan program ini Telekom Malaysia memberikan harga khusus pemanfaatan jasa telekomunikasi kepada sekolah-sekolah dan Departemen Pendidikan. Perusahaan lain, Maxis, bersama Telekom Malaysia memberikan akses Internet dan telepon ke 220 sekolah terpencil dan masyarakat sekitarnya di Sabah dan Serawak. Microsoft juga memberikan harga khusus kepada sekolah dan lembaga pendidikan lainnya.
Kecuali Smart School  program pendidikan lainnya yang memanfaatkan ICT adalah pengajaran IPA dan matematika dengan menggunakan bahasa Inggris, program komputerisasi sekolah, dan The Universal Service Provision Project yang kesemuanya dimaksud untuk memberikan akses yang sama pada pendidikan yang bermutu bagi setiap anak terlepas dari latar belakang agama, budaya, dan sukunya.



BAB  IV
KESIMPULAN

Balapan antarbangsa dalam mempersiapkan anak-anak dan masyarakatnya dalam memasuki era global, melalui pendayagunaan teknologi pendidikan, suka tak suka telah berjalan sejak lama bukan saja di Indonesia tetapi juga Negara lainnya. 
Perimbangan antara pemenuhan kebutuhan nasional dan tuntutan global ini yang seharusnya kita wujudkan dalam membangun sumber daya manusia Indonesia. Pengembangan dan pendayagunaan teknologi pendidikan atau teknologi untuk pendidikan seharusnya mendapatkan prioritas dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan
Keterbatasan waktu dan tempat memaksa tidak terlalu detil dalam menyoroti kasus pendayagunaan teknologi pendidikan di setiap negara, namun mudah-mudahan apa yang sudah dipaparkan dapat menjadikan kita motivator dalam melakukan inovasi pendidikan yang terus dan terus......









DAFTAR PUSTAKA

Miarso,         Yusufhadi. (2004). Menyemai benih Teknologi Pendidikan. Jakarta Pustekkom Diknas bekerjasama dengan Kencana

Bambang       Warsita. (2008). Teknologi Pembelajaran dan aplikasinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Dewi  S. Prawiradilaga dan Eveline Siregar. (2004). Mozaik Teknologi Pendidikan.Jakarta: UNJ bekerjasama dengan Kencana.

http//wikipedia.com

                                        Bloger      :   iisindra.blogspot.com

Email       :   iisindra64@yahoo.co.id







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar